
aku meratapi hal yang kau anggap keberhasilan
ku meringkih akan dekapan cambuk angkuhmu
kau teramat manis untuk menjadi sadis
aku bersyukur semua ini bukan tentang pilihan nurani.
entah....
entah berapa banyak pertanyaan di kepala,
sehingga tak ada sela untuk ku jawab.
entah...
entah sudah berapa cacian dalam sunyi,
hingga tak sanggup aku mengoreksi diri.
hanya berharap ketika perasaan dan logika di sejajarkan,
kita menyikapinya dengan bijaksana.

